VISI
Menyelenggarakan pendidikan yang unggul dan berdaya saing
MISI
Menjadikan warga sekolah beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia, Meningkatkan disiplin diri, bertanggung jawab dan berwawasan kebangsaan, Meningkatkan kompetensi Pendidik, Tenaga Kependidikan dan Peserta Didik, Mengembangkan bakat dan minat Peserta didik pada seni budaya bangsa Indonesia, Membentuk pribadi yang sehat, kuat dan tangguh, Menghasilkan Peserta Didik yang mampu berkompetisi tingkat nasional dan internasional

Sejarah Sekolah

Perkembangan SMA Negeri 64 Jakarta melewati periode waktu yang cukup panjang. Periode pertama diawali pada tahun 1980.

Pada saat itu Kelurahan Cipayung masih merupakan bagian dari Kecamatan Pasar Rebo, dan hanya ada satu SMA Negeri, yaitu SMAN 8 Kelas Jauh , cikal bakal SMA Negeri 58 sekarang.

Pada bulan Juli 1980, Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DKI, membuka SMA Negeri baru di Kecamatan Pasar Rebo, tepatnya di Kelurahan Cipayung, dengan nama SMA Negeri 21 Kelas Jauh, yang kelak menjadi SMA negeri 64 jakarta

Inilah SMA Negeri 64 jakarta, 33 tahun yang lalu

Pada saat SMA Negeri 21 Kelas Jauh baru beroperasi, kondisi bangunan sekolah tidak bertingkat dan tidak semegah bangunan yang nampak seperti sekarang ini. Struktur tanah merupakan tanah berbukit yang ditumbuhi ilalang, dengan ketinggian tanah 50 cm dari permukaan lantai kelas dibagian depannya, dan150 cm lebih rendah dari permukaan tanah pada bagian belakangnya. 

Kondisi tersebut tidak memungkinkan terlaksananya kegiatan Olah Raga dan kegiatan Upacara seperti sekarang, sehingga saat pelajaran Olah Raga, kegiatan siswa lebih banyak diisi dengan kegiatan membersihkan ilalang dan meratakan tanah, karena ketiadaan biaya untuk program membersihkan ilalang dan meratakan tanah.

Lingkungan sekitar sekolah juga masih sunyi, hanya ada beberapa rumah yang penghuninya adalah mayoritas penduduk suku Betawi. 

Jalan masuk menuju sekolah masih merupakan jalan tanah perkampungan yang relatif sempit, tidak dapat dilalui mobil, dan jika musim hujan tiba, sangat menyulitkan kendaraan roda dua maupun pejalan kaki yang menuju ke sekolah. Diujung jalan masuk bagian depan masih banyak ditumbuhi pohon bambu yang sangat lebat. Dibalik rumpun bambu terdapat sebuah makam yang dikeramatkan oleh penduduk setempat, dan sampai sekarang makam tersebut masih ada.

Dengan penerangan yang sangat minim, maka malam hari terasa menyeramkan dan bahkan konon sering muncul kejadian yang dianggap mistis oleh masyarakat sekitar.

Sebagai sekolah baru, belum banyak warga sekitar yang mengetahui keberadaan SMAN 21 Kelas Jauh. Dan karena sekolah baru, masyarakatpun masih mempertanyakan kualitas dan sumber daya tenaga pengajarnya. Untuk memenuhi quota jumlah siswa, maka pada awal sekolah beroperasi, SMAN 21 Kelas jauh diberi kesempatan menerima siswa secara langsung tanpa melalui proses seleksi. Karena sepinya pendaftaran calon siswa baru, maka Kepala Sekolah sempat juga beriklan di koran Sinar Harapan bahwa SMAN 21 Kelas Jauh menerima siswa baru, sehingga sebagian besar siswa berasal dari daerah yang relatif jauh dari Cipayung, seperti Cililitan, Cawang, Jatinegara, Pulo Gadung, Cempaka Putih, Tanjung Priok, Harmoni, Penjaringan dan lain-lain. Dengan kondisi demikian, maka pada awal beroperasinya, SMAN 21 Kelas Jauh hanya memiliki 6 rombongan belajar dengan siswa berjumlah 240 orang. 

Tenaga pengajar dan petugas Tata Usaha pada awalnya adalah sebagian Guru dan Pegawai SMAN 21, sebagai sekolah induk yang terletak di daerah Pulo Mas 30 km kearah utara dari Cipayung, Jadi dapat dibayangkan, pada saat sarana transportasi belum selancar dan semudah sekarang, saat sarana komunikasi belum secanggih sekarang, sekolah kita harus dapat menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar dengan baik. 

Seiring perjalanan waktu, maka penambahan Tenaga Pengajar adalah dengan sistem pertemanan, maksudnya Bapak / Ibu Guru mengajak rekan-rekan dikampung halamannya yang memiliki ijazah Sekolah Guru, untuk bergabung mengajar di SMAN 21 Kelas Jauh. Dan alhamdulillah, sebagian Bapak Ibu Guru tersebut sampai sekarang ada yang masih aktif sebagai Tenaga Pengajar di SMAN 64 Jakarta.

Dengan kondisi sekolah yang serba terbatas, sekolah kita ternyata juga mampu mengukir prestasi. Prestasi pertama dan dianggap spektakuler adalah pada tahun 1984 saat siswa kita berhasil menjuarai turnamen sepak bola pelajar se Provinsi DKI Jakarta. SMAN 21 Kelas Jauh keluar sebagai juara 1 Provinsi DKI Jakarta, mengalahkan SMA Olah Raga di Ragunan, yang seluruh siswanya adalah kumpulan atlit yang unggul dibidangnya masing-masing.

Pada tanggal 25 Maret 1983, Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta menetapkan SMAN 21 Kelas Jauh menjadi SMA Negeri 64 Jakarta.

Untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan persekolahan, pada saat itu Pemerintah melalui Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta membuka trayek bus jurusan Cililitan Cipayung, dengan bus Kopaja 64, dan hanya bertahan beberapa tahun saja, karena segera digantikan dengan angkutan umum yang lebih kecil, yaitu KWK 02, jurusan PGC Cilangkap sampai sekarang.

Tahun 1990 terjadi pemekaran wilayah Kecamatan Pasar Rebo. Salah satu syarat berdirinya sebuah Kecamatan antara lain harus memiliki sedikitnya 1 SMA Negeri. Karena di Kelurahan Cipayung sudah ada SMA Negeri yaitu SMAN 64 Jakarta, maka Kelurahan Cipayung layak dimekarkan menjadi Kecamatan.

Pada tahun 1991, terjadi musibah disekolah, yaitu sebagian besar atap sekolah runtuh. Beberapa bulan sebelum runtuh, atap tersebut juga sudah ditunjang karena sudah menunjukkan tanda-tanda akan runtuh. Ketiadaan biayalah yang menyebabkan ditundanya perbaikan atap bangunan sekolah kita pada saat itu.

Untuk menghindari jatuhnya korban dan agar proses pembelajaran tidak terhenti, maka selama 4 bulan atap diperbaiki, tempat belajar menumpang di SD, kelas 1 menumpang di SD Kampung Rambutan, kelas 2 dan kelas 3 menumpang di SD Kelapa Dua Wetan.

Seiring perjalanan waktu, SMAN 64 Jakarta terus berbenah menuju perkembangan sesuai dengan visinya. Tuntutan dan tantangan atas sebuah kemajuanpun berimplikasi terhadap pemenuhan fasilitas, baik sarana maupun prasarana. Inilah yang terjadi pada SMAN 64 Jakarta. Bahwa pada tahun 1998 untuk kedua kalinya SMAN 64 Jakarta mengungsi kembali kesekolah lain. Pengungsian kali ini bukan karena musibah, tetapi karena ada pembangunan fasilitas belajar sesuai kebutuhan. 

Selama 2 tahun, kegiatan belajar mengajar SMAN 64 Jakarta menumpang di SMAN 113 Jakarta yang terletak di daerah Lubang Buaya, menempati ruang kelas yang memang sudah lama tidak lagi digunakan dan belum sempat dibongkar, sementara itu siswa SMAN 113 sudah memiliki ruang kelas baru yang representatif. KBM siswa SMAN 64 Jakarta selama menumpang di SMAN 113, berlangsung pukul 13.00 s.d pukul 18.00. 

Tahun 2000, siswa SMAN 64 Jakarta kembali ke Cipayung, menempati gedung barunya. Karena bangunan belum siap seluruhnya, maka pembelajaran dilaksanakan 2 sift, pagi dan siang. Beberapa bulan kemudian, barulah bangunan selesai, walau belum secantik seperti sekarang.

SMA Negeri 64 Jakarta, kini .......

Dalam 10 tahun terakhir ini, dengan kerja keras dan atas ridho Allah swt perkembangan SMA Negeri 64 Jakarta mengalami kemajuan yang sangat signifikan, walaupun belum optimal hasilnya.

visi misi berlandasan imtaq, unggul dalam iptek dengan berwawasan kebangsaan mampu bersaing secara global yang diemban bukan hanya sekedar tulisan tanpa makna, tetapi merupakan ruh bagi perjalanan SMA N 64 Jakarta hingga kedepan

Tuntutan zaman terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi, harus dapat kita imbangi dengan teguhnya iman, pembangunan karakter yang sedang kita galakkan.

Dan pada akhirnya, ketika ketepatan capaian menjadi tujuan, saat kecepatan tindakan menjadi layanan dan kala kehematan waktu menjadi ukuran, maka pada saat itulah sesunggahnya kita sedang menuju era keunggulan kompetitif yang berkarakter.